Selamat Datang di Situs Berita Media Papua...! Follow us on

MATOA (Pometia Pinnata) dari Sudut Pandang HISTORIS-TAKSONOMI

Posted on : 19 May 2016 04:07:59 Dibaca sebanyak : 1196 kali

Oleh Hengky L. Wambrauw, S.Pd,. M.Si

Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UNIPA Manokwari

Pendahuluan

Penelitian di bidang taksonomi terus berkembang dari waktu ke waktu hingga saat ini terus dilakukan oleh para ahli botani dan taksonomi. Salah satu pendekatan yang gencar digunakan, yaitu taksonomi numerik. Banyak bukti dan analisis yang telah dilakukan oleh berberapa peneliti dan kolektor sebagai bukti kuat yang mempertajam pemahaman terhadap arti sistematika taksa, yang tergambar melalui suatu model fenogram atau kladogram. Membuka alam raya pikir kita pada satu sisi, bahwa ilmu taksonomi memiliki manfaat yang luas dalam praktek kehidupan sehari-hari, contohnya aktivitas seorang petani di kebun, keluarga mengurusi pekarangan rumah, kepala kantor dan pegawainya menata dokumen-dokumen di kantor. Taksonomi merupakn ilmu pengetahuan yang berbasis pada fenomena dan sifat alami dari makluk hidup, antara lain memudahkan pengungkapan pertanyaan-pertanyaan tentang perubahan-perubahan yang muncul di antara atau di dalam tubuh organisma. Melakukan sebuah penelitian taksonomi berarti menciptakan peta-peta konsep atau definisi terhadap suatu obyek atau permasalahan tertentu yang dicirikan, dikelopokkan dengan memberikan identitas diri (nama) yang khas hingga menerapkan pendekatan baru. Nama suatu tanaman atau hewan secara ilmiah dicirikan oleh kepemilikan sifat kualitatif dan kuantitatif tersendiri yang khas, konsisten atau hanya berupa variasi adaptif. Demikian pada prinsipnya ilmu taksonomi lebih bersifat konseptual, hirarkhi (sistematis). Bukti molekuler memberikan perspektif yang kompleks pada tingkatan sel. Namun nilai pemanfaatan bagian-bagian dari tanaman matoa menjadi fokus terpenting hingga saat ini di Tanah Papua.

Matoa dari Masa ke Masa

            Tanaman matoa (Pometia pinnata Forst.)  dikenal di Indonesia dengan sebutan nama lokal yang beragam. Contohnya tanaman ini disebut Hatobu (Toba); Ihi (Arfak-Manokwari)/Matoa (seantero Papua); Jagir/ Sapeh (Madura); Kayu sapi/sapen (Jawa); Langsek Anggang (Minangkabau); Leungsir (Sunda); Matoa ngaahe (Galela Hal. Utara); Pakam (Batak Karo)

Beragam kolektor memiliki konsepnya sediri-sendiri pada masanya tentang matoa yang ternyata jauh sebelumnya telah dibagun oleh generasi botanis dan peneliti matoa atau naturalis dan kurator terdahulu pada era Pemerintahan Hindia Belada di New Guinea (sekarang Papua). Mereka adalah Hooker, Blumberger, Radlkofer, Koorders, Valenton; Henderson hingga Jacobs dengan revisi terakhirnya pada tahun 1962, serta Damas (1993). Setiap perkembangan ilmu taksonomi, hierarki kategori makin diperkecil hingga forma. Peradaban konseptual ini telah berlangsung lama dalam praktek kehidupan nyata dan aktivitas manusia sehari-hari, seperti menyebut nama jenis-jenis matoa oleh logers, bahkan  nama barang dagangan disebut dengan jenis atau tipe alat A, B atau C dan seterusnya. Bukti spesimen yang telah dikoleksi di beberapa herabrium seperti Manokwariense (MAN), Bogoriense (BO) khusus yang berasal dari kepulauan Indonesia merupakan bukti catatan sejarah yang menggambarkan perjalanan panjang para botanis, suatu proses transfer pengetahuan, peradaban manusia dalam memahami konsep jenis sebagai dasar untuk mempelajari taksonomi itu sendiri. Walaupun sering terjadi salah tafsir antara konsep jenis taksonomi, jenis biologi dan konsep jenis dalam praktek kehidupan sehari-hari. Misalnya di bidang ekonomi, tidak jelas kapan suatu barang disebut jenis, tipe, varian dan seterusnya. Prinsip hierakhi taksonomi umumnya menjadi pedoman dalam sebuah kerja ilmiah, sehingga lahir sebagai suatu cabang ilmu alam dapat diosebut mencakup metode ilmiah. Menggunakan contoh tanaman matoa, muncul penafsiran dan pertanyaan tentang apa konsep jenis itu sendiri dan apa konsep jenis taksonominya.

Konsep Jenis Matoa

Sejak adanya ahli botani terdahlu, tidak ada definisi tunggal tentang jenis itu sendiri sampai sekarang. Dalam taksonomi, Jenis merupakan unit terkecil yang digunakan sebagai dasar minimal dalam klasifikasi tumbuhan saat ini. Variasi dalam suatu jenis tumbuhan dapat dibedakan secara jelas antara individu-individu sejenisnya, memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat variasi infraspesies, yaitu karakteristik yang dapat diklasifikasikan pada kategori di bawah tingkat jenis. Kategori infraspesies meliputi: varietas, sub varietas, forma dan subforma ataupun klon.

Sering yang dimaksud dengan jenis adalah kultivar (cultivated variety), yaitu bagian-bagian dari jenis ‘species’ yang ditanam, dibudidayakan atau dijinakkan. Praktek pertanian sehari-hari, kita tidak berhadapkan dengan jenis (species) dalam pengertian biologi (jenis taksonomi), tetapi dengan kultivar-kultivarnya (Rivai 1973). Akhir-akhir ini sebutan varietas unggul dan varietas ajaib sering dipakai untuk menyebut kultivar, maka istilah jenis dapat dikhususkan pemakaiannya untuk mengindonesiakan “species”, sehingga kebiasaan di lingkungan biologi seperti itu dapat dimantapkan dan diatur dalam Kode Tatanama menjadi jenis.

Varietas (variety) diartikan sebagai turunan dari jenis, jenis-ubah, macam, ragam atau jenis dalam lingkungan pertanian (Tohir 1960). Jelas disini bahwa istilah jenis sudah diterima di tempat species, maka istilah macam harus dihindari. Istilah jenis-ubah juga dapat menimbulkan kesan kosepsi yang salah, tetapi memakai istilah varietas yang sudah dipakai secara umum.

Forma sering diterjemahkan sebagai bentuk (Tjitrosoepomo 1969). Dalam tatanama biologi, pemakaian istilah bentuk dihidari dipermasalahkan dan jarang dipakai, melainkan kembali menggunakan istilah forma yang tidak hanya meliputi bentuk, tetapi juga variasi pembulu, organ vegetatif dan generatif. Mengingat besarnya derajat kesepahaman dalam tatanama biologi, maka digunakan 12 Satuan taksonomi, yaitu: divisi, kelas, bangsa, suku, puak, marga, seksi, deret, jenis, varietas dan forma.

Subspesies (anak jenis) adalah bagian dari jenis, teridiri atas ciri-ciri yang dipakai untuk menggolongkannya ke dalam varietas atau forma tertentu. Dengan demikian, posisi subspesies membawahi atau menduduki posisi varietas dan forma (BAB I, Pasal 4 tentang Tingkat-tingkat Takson).

Varietas adalah suatu populasi tanaman dalam satu jenis yang ciri pembedanya terlihat sangat jelas. Dengan kata lain, variasi yang sangat jelas terlihat pada sejumlah jenis atau jenis tertentu disebut varietas. Tatanama varietas tanaman telah diatur dalam Kode Internasional Tatanama Botani (International Code of Botanical Nomenclature, ICBN). Individu-individu sejenis atau anggota-anggota sejenis dapat kawin secara alami dan menghasilkan keturunan yang sama dengan induknya. Kesamaan ciri atau sifat alami dengan induknya dapat diklasifikasikan  sebagai variasi-variasi di bawah tingkat jenis itu sendiri.

Konsep varietas dalam arti agronomi, diartikan sama dengan kultivar (cultivated variety), yaitu, varietas-varietas suatu tumbuhan yang ditanam atau dibudidaya untuk tujuan pemanfaatan secara agronomi. Diatur dalam Kode Internasional Tatanaman Tanaman Budidaya (International Code of Nomenclature for Cultivated Plants, ICNCP). Kultivar merupakan salah satu unit dasar dalam pengelompokan tanaman (culton= cultivated plant taxon) atau tumbuhan yang dibudidaya (Bailey 1923). Kultivar diartikan sebagai sekelompok tanaman atau variasi-variasi dalam suatu jenis tumbuhan yang memiliki satu atau lebih ciri yang dapat dibedakan secara jelas, dan tetap mempertahankan ciri-ciri khasnya yang jika direproduksi secara seksual maupun aseksual, sehingga kultivar dapat terdiri atas populasi terseleksi, galur, klon dan hibrida. Individu sejenis yang memiliki satu ciri khas mengacu kepada batasan tentang forma, walaupun forma tidak saja didasarkan pada bentuk, melainkan meliputi juga beberapa variasi adaptif antara lain seperti warna pada bunga, buah dll. Perbedaan-perbedaan dalam individu sejenis dinyatakan dalam jarak genetik (gentic distance), sedangkan kemiripan-kemiripan dalam individu sejenis dinyatakan dalam nilai koefisien kemiripan tertentu yang dapat diukur melalui analisis multivarian berbasis komputer.

Tatanama dan Nama yang Valid

            Tatanama (nomenclature) diatur dalam Kode Tatanama Tumbuhan. Kode Internasional Tata-Nama Tumbuhan 1971, Rivai (editor) 1973. Herbarium Bogoriense Bogor. Disebutan dalam Pasal 66 tentang penunjuk bagian marga dianggap tidak sah dan harus ditolak jika penerbitannya bertentangan dengan Pasal 22, 51, 54, 57, 58 atau 60, yaitu bila pengarangnya tidak memakai penunjuk yang sah (tertentu) yang tersedia untuk takson dengan suatu batasan, kedudukan dan tingkatan tertentu. Contoh kasus: P. pinnata Forst. asal Namoko tahun 1774.

Catatan dalam pasal 67 tentang permasalahan prioritas dalam pasal 45 tentang nama-nama yang diterbitkan, mengacu ke nama atau penunjuk, persyaratan penerbitan, tempat yang sudah terpenuhi sebelumnya. Suatu nama harus ditolak, jika nama itu dipakai dengan pengertian yang berbeda-beda, karena sudah menjadi sumber-sumber kesalahan secara terus-menerus. Contoh Heyne sebagai editor untuk nama-nama jenis matoa dalam buku dengan Judul: Tumbuhan Berguna Indonesia.

Pasal 71, suatu nama harus ditolak jika nama itu didasarkan atas sifat-sifat tidak normal (monstrositas), contoh kasus matoa (malformasi daun’wiches brooms’). Pasal 75, otografi nama-nama dan penunjuk-penunjuk. Jika ejaan beberapa nama marga atau penunjuk jenis dan bagian-bagiannya begitu serupanya sehingga mudah sekali dikacaukan, contoh: nama-nama itu sering hendaklah dianggap sebagai variasi belaka, sehingga merupakan nama-nama yang sama (homonim).

Beberapa Nama Jenis Matoa telah direvisi

            Salah satu penelitian yang cukup menantang adalah penelitian revisi taksonomi, yaitu merevisi apa yang sudah dikerjakan dan dilaporkan oleh ahli sebelumnya. Tanggung jawab moril selalu terbawa dalam ingatan peneliti, terutama terhadap ketenagan seseorang yang dipandang layak pada generasinya, tetapi kemudian hasil kerjanya dikritisi bahkan direvisi dengan menunjukkan bukti-bukti yang mungkin tidak lebih dari sebuah pengulangan atau sebaliknya. Diperlukan etika ilmiah dan bahasa yang santun, misalnya mencantumkan bukti-bukti dan pustaka, hasil publikasi yang valid (kekinian). Dalam posisi seperti ini, asas prioritas hendaknya menjadi acuan kerja kita. Sebuah karya ilmiah dianggap sah jika dipublikasi pada jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Pemasalahan kita adalah keterbukaan dan akses kita terhadap jurnal ilmiah maupun hak paten.

Contoh Kasus: Revisi matoa yang dilakukan oleh Jacobs (1962) dengan type species: Pometia pinnata Forst. 1774 asal Namoka dipakai untuk merevisi nama jenis menurut Blumeberger pada tahun 1847, Thwaites pada tahun 1855 menggunakan istilah “eccremanthus” serta monografinya Radlkofer pada tahun 1933, beberapa hal yang direvisi disebut menggunakan istilah salah eja dan miskonsepsi (semata-mata suatu contoh pertimbangan etika ilmiah); Damas (1993) dari PNG melaporkan bahwa mestinya P. tomentosa adalah jenis tersendiri selain P. pinnata dan P. ridleyi.

Kecenderungan masih menggunakan penamaan jenis matoa menurut Radlkofer di Papua dimaksudkan untuk membedakan antara matoa penghasil buah yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat lokal dan matoa yang sifat kayunya bagus untuk konstruksi rumah karena dianggap lebih kuat (awet dari perspektif tradisi pengguna/penebang kayu-loggers). Menganut penamaan jenis matoa menurut Radlkofer pada tahun 1933 belum tentu sebagai bagian dari taat asas prioritas, walaupun faktanya matoa di hutan Papua telah dibedakan ke dalam tingkat jenis berbeda dengan menunjukkan perbedaan morfologi pada variabilitasnya menjadi 4 jenis: P. pinnata; P. tomentosa, P. acuminata dan P. coreacea. Beberapa kolektor matoa di Papua antara lain: Bross (1934), divisi Barat New Guinea (sekarang Papua), Zalverda (1937), van Royen (1954), Valenton dan Koostermans (1903). Buwalda di Maluku Utara dan Rumphius di Kepulauan Maluku. Rumphius mendeskripsikan jenis-jenis matoa dengan sebutan lokal dawan putih, dawan batu dan dawan merah. Hasil yang ditulis kembali oleh Heyne (1987) dengan melaporkan ada 3 jenis matoa, dalam hal ini sebagai editor Buku Tumbuhan Berguna Indonesia. Beberapa nama yang disitasi oleh Heyne lalu direvisi oleh Jacobs (1962) dan diterbitkan dalam Reinwardtia. Kemudian Damas (1993) melaporkan bahwa marga Pometia dideskripsikan pertama kali oleh Blumberger (1847) dengan nama Irina. Studi kedua dilakukan oleh Radlkofer (1933), membagi sub marga Pometia sampai tingkat jenis tersebut di atas. Di antara selang waktu di atas, muncul beberapa botanis yang mengkaji tentang marga Pometia, yakni  Thwaites (1855), Hiern dan fitografinya Endert (1928). Lingkup kerja mereka terbatas pada organ vegetatif. Sesudahnya, karakter vegetatif ditinggalkan, tidak digunakan lagi dalam fitografi-fitografi yang terbit, para botanis beralih menganut sistem artifisual/seksual ciptaan Linnaeus, yakni kajian berdasarkan karakter generatif (bunga, buah). Jacobs (1962) melakukan revisi terhadap kerja sebelumnya, beberapa koleksi di Herbarium MAN, BO juga direvisi dengan memerikasa ±1000 spesiem koleksi di herbarium sebagai berikut: Jacobs (1962) merevisi monografinya Radlkofer setelah memeriksa lebih dari 1000 sheet spesimen koleksi pada: British Museum (BM), Cambridge (CBG), KEW (K), Kepong (KEP), Leyden (L), Paris (P), Munich (M), Manila (PNH), BW, BO, TNG, BS, BNB, Sandakan (SAN), SAR. Pometia terdiri atas dua jenis, yaitu P. pinnata Forster & P. ridleyi King dan beberapa sampel yang telah dideterminasi diganti dengan nama sinonim dan ditempatkan di bawah satu spesimen tipe P. pinnata Forst. Karakteristik dasar:  pertulangan, bentuk daun & tipe perbungaan. Implikasi marga ini cukup variatif, karena  iklim georafis tiap daerah berbeda membentuk variasi pada variabilitas lokal daerah tertentu di Papua & di daerah Jawa Barat adalah P. pinnata var. pinnata f. pinnta dan var. javanica f. glabra dan kultivar Kelapa. Kultivar Kelapa umumnya bersal dari Papua. Banyak sifat intermediet diantara aksesi matoa, sehingga secara morfologi pemakaian status taksa matoa dengan forma sangat dianjurkan, terutama bagi peneliti taksonomi matoa sejak tahun 1962. Memang lebih gampang menggunakan nama jenis.

Kerja revisi ini didasarkan pada karakter vegetatif dan generatif. Ferguson dan Muller (1976) melaporkan bahwa marga Pometia tergolong dalam bagsa rambutan (Nepheliae) yang meliputi juga Dimocarpus, Licchi dan Nephelium dalam suku Sapindacea.

Meskipun seorang penulis asal Prancis, P. Pomet (1658-1699) telah lebih dulu mendeskripsikan marga matoa dengan istilah Pometia yang diambil dari namanya sendiri yang dilatinkan menjadi “Pometia”. Marga Pometia J.R. Forst. & G. Forst. dideskripsikan berdasarkan kerjanya Jacobs (1962). Soepadmo et al. (1996) ke dalam dua jenis yang tersebar di Sri Lanka, Kepulauan Andaman dan Nicobar, Indo-Cina, Taiwan melalui Malesia dan Pasifik, Fiji, Samoa dan Tonga. Marga Pometia memiliki karakter yang membagi karakter yang sama dengan Dimocarpus pada kepemilikan kelenjar minyak pada permukaan bawah anak daun (abaksial), pertulangan, struktur bunga, aril yang melepas dan kecenderungan membentuk daun penumpu semu. Blume. (1847) menyebut nama marga ini dengan istilah Irina. Kemudian kerja Radlkofer (1933) yang pertama kali membagi subdivisi marga ini ke dalam tingkat jenis dengan mengacu pada deskripsinya Blumberger.

Di Papua Kalkman dan Faber (1959) dalam studinya Kapisa et al., (1984), tentang hubungan antara tinggi bebas cabang, diameter dan volume pohon matoa (Pometia spp.) kayu besi (Intsia sp.) dan nyatoh (Palaqium spp.) di areal hutan Madopi Kesatuan Pemangkuan Hutan Manokwari, bahwa  ada 3 jenis matoa, yaitu P. pinnata Forst., P. acuminata Radlk., P. coreacea Radlk. tersebar di dataran rendah hingga ketinggian lebih dari 1000 m dpl dan di dalam hutan, tumbuh berkelompok di tempat-tempat tertentu. Faktor koreksi kayu matoa menjadi bagian yang disinggung di dalam karyanya.

Tabel 1. Karakteristik Matoa Menurut Kapisa et al., 1984.

Jenis Matoa (Pometia spp.)

Tempat Tumbuh

Ciri morfologi yg mencolok

P. pinnata Forst.

Tanah datar bersifat liat dan tergengang air saat hujan

Daun lebar, buah dapat dimakan, tinggi bebas cabang ± 10 m, batang kurang bagus bila dibandingkan dengan P. acuminata dan P. coriacea)

P. acuminata Radlk.

tidak disebutkan

Berdaun kecil, tinggi bebas cabang lebih dari 10 m, tajuk bulat, diameter batang rata-rata 100 cm,

P. coriacea Radlk.

tidak disebutkan

tidak disebutkan

 

Musim bunga dan buah Pometia spp. sekali dalam setahun (Agustus- September/Oktober) berbunga, 3 – 4 bulan buah matang (dipanen).

Menurut Damas (1993) mestinya f. tomentosa (Jacobs) diposisikan pada tingkat jenis.

Tabel 2. Ciri Pembeda P. Pinnata dan P. Pinnata f. pinnata

Jenis Matoa

Tumbuh di

Ciri yang dipakai

P. pinnata f. tomentosa

 

hutan primer

Akar berbanir sedang dengan tepi menumpul, permukaan kulit batang lebih kasar (berdandan), permukaan kulit batang mengelupas dan meninggalkan flek tipis-pendek/lubang-lubang kecil, Permukaan kulit batang selalu terang sampai coklat kemerahan, batang selalu tegak lurus, lebih tinggi, batang membulat teratur; anak daun lebih sempit.

P. pinnata f. pinnata

umumnya ditanam

Akar berbanir papan, tepi menajam, kulit mengelupas, halus, tekstur luar berwarna hijau gelap (bopeng), Tingi bebas cabag lebih rendah (terkesan kerdil), tajuk lebih rendah dan membudar tidak teratur (obcurved) batang lebih berpilin, Anak daun lebih lebar

 

Seksi 6 tentang penolakan nama-nama dan penunjuk-penunjuk. Pasal 643 disebutkan bahwa suatu nama dianggap tidak sah dan harus ditolak jika nama itu berlebihan atau tidak perlu waktu diterbitkan, yaitu jika takson yang bersangkutan seperti yang dibatasi pengarangnya mencakup juga tipe dari suatu nama atau penunjuk yang seharusnya dipakai untuk taksa itu.

Konsep Jenis Alami, Jenis Biologi, Jenis Pemanfaatan Matoa

            Matoa yang diteliti terdiri atas jenis alami atau jenis biologi dan jenis pemanfaatan Jneis pemanfaatan meliputi varian-varian jenis biologi. Berbicara tentang identifikasi varietas suatu tanaman, maka wilayah kerja kita meliputi beberapa kerja antara lain: penentuan persentase, skema pengawasan persilangan, perlindungan terhadap hak-hak pemulia tanaman (hak paten). Untuk Indonesia, diatur dalam Lembaran Negara No. 29 tahun 2000. Pekerjaan semacam itu jarang dilakukan oleh botanis maupun ahli sistematis, karena sering kali karakterisasi yang dilakukan pun dilandasi oleh suka atau tidak suka terhadap individu-individu tanaman, seperti nilai pemanfaatanya, misalnya buah atau kayu.

            Pemulia tanaman berperan penting dalam penelitian untuk meningkatkan nilai genetik tanaman. Matoa di hutan alam maupun varian-variannya yang dibudidaya secara luas maupun yang dikoleksi secara in situ maupun ex situ memiliki polimorfisme intrinsik. Beberapa koleksi secara ex situ, seperti di Kebun raya Bogor, Arboretum IPB dan BLHKA Bogor, serta di Kebun koleksi Plasma Nutfah LIPI-Cibinong dan Taman Buah Mekarsari.

            Selain itu, sifat fenotipe variabilitas yang diamati relatif terhadap perbedaan-perbedaan genetik yang sesungguhnya. Beberapa kelemahan seperti keadaan lingkungan, bahan yang dikumpulkan, ekografi dan budaya, tahap-tahap perkembangan yang beragam, sering menjadi beberapa kelemahan dalam melakukan identifikasi yang akurat, terutama dalam kaitanya dengan pengaruh lingkungan terhadap sifat variabilitas, maka diperlukan pendekatan biokimia antara lain seperti analisis isozim karena sifat isozim stabil terhadap lingkungan geografis maupun jalur metabolik.

Dengan demikian, perlu dilakukan karakterisasi bahan suatu tanaman/tumbuhan agar meminimlakan pemahaman yang terbatas karena variabilitas itu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya (Horry, 1989). Secara tidak langsung, karakterisasi merupakan kemampuan untuk menstabilkan pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap fenotipe, maka hendaknya karakteristik variabilitas digambarkan dalam kondisi pengamatan yang sama (seperti tempat, tahap perkembangan dll.). Permasalahannya adalah tubuhan yang berkembangbiak secara aseksual (contoh kasus, varietas pisang) memiliki sifat fenotipe yang tidak bisa dihubungkan dengan  sifat genotipenya, kecuali dengan melakukan inbreeding satu generasi agar dapat mengasumsikan hubungan kekerabatannya. Nilai sifat fenotipe yang dilakukan oleh deskriptor-deskriptor telah diperluas dengan adanya pendekatan taksonomi numeris dengan analisis multivarian berbasis komputer telah memungkinkan kita untuk mensisntesis informasi-informasi ataupun menyederhanakan descriptor-deskriptor yang berlebihan (redundant descriptor), misalnya dalam membuat deskripsi dan determinasi yang berlebihan atau mengulangi kesalahan yang sudah umum diketahui, dalam rangka menyatukan pandangan yang lebih obyektif (reasonable) terhadap perbedaan-perbedaan pandangan seputar sifat morfologi (Cottin, 1988).

            Dalam kaitannya dengan kasus matoa, secara morfologi, baik mato asal hutan, matoa yang dibudidaya maupun yang dikoleksi secara in situ dan ex situ dapat dibedakan antara jenis biologi dari varian-variannya. Varian-varian matoa terdiri atas klon-klon. Menurut Horry (1989), pola-pola antosianin dapat dipakai sebagai penunjuk varietas pisang, dimana sub kelompok pisang yang berbeda memperlihatkan pola-pola antosianin yang berbeda pula dan pola-pola dalam klon-klon yang mirip (Grande Naine dan ‘cv. 901 dan sub kelompok Cavendish). Selain itu, metode antosianin gagal mendeteksi 4 sub kelompok ‘Ibota’, maka klon-klon ini cukup dibedakan berdasarkan penampakan morfologinya sebagai ‘mungkin sama’.

            Dalam kasus matoa, secara morfologi antosianin dapat dilihat pada warna pucuk, kepala sari, warna bunga dan permukaan kulit batang (senyawa fenol). Dari contoh di atas identifikasi pola-pola antosianin varietas piasang Grande Naine, Cavendish; Ibota menjadi pendekatan biokimia yang lebih efisien untuk mengidentifikasi klon pisang. Namun demikian, karakterisasi biokimia telah melibatkan pengaturan mekanisme, sehingga tidak langsung digunakan dengan istilah genotipe. Dalam sudut pandang ini, nilainya sama dengan karakterisasi morfologi, tetapi manfaat yang lebih besar terletak pada jumlah (kuantitatif), dapat direproduksi dan efektif: merupakan metode sidik jari (finger print) yang digunakan saat ini.

Interpretasi pola-pola isozim pada Tanaman Matoa

            Matoa sebagai salah satu tanaman buah khas daerah Papua, memiliki nilai ekonomi yang tinggi ketika datangnya musim buah. Dijumpai beberapa variasi warna dan ukuran buah matoa. Sejumlah aksesi matoa menampilkan variasi morfologi yang perlu didukung dengan data molekuler melalui kegiatan identifikasi. Menurut Horry (1989), identifikasi tidak melibatkan pengetahuan dasar tentang pola pita, karena varietas hanya dapat dibedakan dengan ada atau tidak adanya (presence or absent) pola-pola pita pada zimogram. Pola-pola pita tidak dipengaruhi oleh usia pohon, usia daun maupun lokasi tempat tumbuh. Hal ini berarti aksesi matoa yang memiliki pola pita sama adalah satu varietas. Sedangkan aksesi matoa yang muncul denga pola pita berbeda adalah varietas lainnya. Begitu pula dengan aksesi yang pola pitanya tidak tampak adalah varietas lainnya yang memiliki sifat yang lebih kompleks yang mungkin lebih jelas pada sistem enzim lainnya. Klon-klon matoa yang terdapat dalam sub kelompok yang sama adalah varietas yang sama, dimana di dalamnya terdapat pula tanaman induknya. Sebaliknya, aksesi matoa yang terdapat pada sub kelompok yang sama adalah varietas lainnya. Matoa jenis alami dan klon atau varian-varian matoa yang terdapat dalam sub kelompok yang sama memiliki fenotipe dan genotipe yang relatif sama, ditunjukkan dengan ciri morfologi dan pola-pola pita isozim dan jarak migrasi yang dianalisis.

Fitokimia Matoa

            Pometia pinnata Forst. mengandung triterpenoid: senyawa Pometin, 3-0 (beta pyranosil) dan as. oleanolik. Kulit batangnya berbusa jika direndam di dalam air, karena mengandung Saponin (Mohammet et al., 2010). Nat Prod Comenun 2010 Feb; 5 (2) : 191 -5.pub. med). 

Simpulan

            Matoa (Pometia spp.) tersebar luas di Kawasan Malesia termasuk kepulau di Indonesia terdiri atas jenis di hutan alam dan jenis yang dibudidaya secara luas. Walaupun sifat isozim stabil terhadap lingkungan geografis maupun jalur metabolik, namun terhadap jenis di hutan alam pada suatu pulau hendaknya dianalisis terpisah dan dilakukan perbandingannya. Hal yang berbeda dilakukan terhadap varian yang dibudidaya secara luas di beberapa pulau di Indonesia.

            Variabilitas matoa yang terdapat di dalam hutan alam maupun yang dibudidaya secara luas termasuk yang diintroduksi dari luar Indonesia, misal dari Sri Lanka ternya memiliki pola pita peroxidase (PER) yang relatif sama atau dengan jarak migrasi (Rf) 0.29 – 0.43. Perbedaan nama jenis adalah subyektivitas penelitinya, tetapi kesepakatan bersama dalam laporan revisi terakhir (Jacobs 1962) dapat diterima (reasonable), karena perbedaan yang menunjukkan tingkat jenis memiliki perbedaan yang sangat kecil, jika dibandingkan dengan banyaknya variasi morfologi yang lebih adaptif. Banyaknya sejumlah karakter yang sama (kuantitatif) menentukan pengelompokan matoa, namun ciri khas atau ciri kunci yang terbatas dapat menjadi alasan memposisikannya pada kategori forma. Namun demikin, geografis lokal dan pengalaman pemanfaatan adalah nilai ekonomi yang tidak dapat dipungkiri (not taxonomic but reasonable).

Penulis adalah Staf Dosen di Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UNIPA. Dalam tugas perkuliahan mengampu mata kuliah Botani Tingkat Rendah dan Botani Tingkat Tinggi. Selain itu, mengajar Taksonomi Tumbuhan di Jurusan Biologi FMIPA UNIPA sejak Tahun 2006 hingga sekarang. Selain mengajar, penulis menjabat sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UNIPA hingga saat dan anggota Puslit UNIPA, Angota Badan Akreditasi Pendidikan di Provinsi Papua Barat.

Alamat email: hengky_lukas72@yahoo.co.id

Tags : No Tags
Baca Juga Berita Lainnya
KOLOM HUMANIORA
15 Aug 2017 12:33:11

Mahasiswa Tolak Materi Wakesbang TNI/Polri di PKKMB Unipa...

Manokwari, Mediapapua.com - Hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Unipa terhadap 1.700 mahasiswa, sempat belangsung tegang, Senin (14/8/2017).Puluhan mahasiswa senior...
KOLOM PARLEMENTARIA PAPUA BARAT
15 Aug 2017 12:45:04

Legislator DPR PB Minta Pemerintah Evaluasi Sistim Tender Proyek...

Manokwari, Mediapapua.com – Sistim tender proyek yang diterapkan saat ini, dinilai belum sepenuhnya mendukung keberadaan pengusaha asli Papua. Hal ini dapat dilihat dengan sistim tender online.L...
KOLOM TEKNOLOGI
11 Jul 2016 10:19:49

DPRD Mansel Tetapkan 17 Perda...

Mansel, Mediapapua.com - DPRD Manokwari Selatan menetapkan 17 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang diajukan oleh Pemda Mansel untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda), dalam sidang Parip...
KOLOM METROPOLIS
15 Aug 2017 12:15:09

APBN Devisit Usulan DAU Tambahan di APBD-P PB Tak Digubris...

Manokwari, Mediapapua.com - Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Papua Barat, Abia Ullu S.Sos, menyatakan, hasil rekonsiliasi bersama Pemerintah Pusat (Pempus), disebutka...
STATISTIK PENGUNJUNG
Flag Counter
INDEXS KATEGORI

Kategori Papua Barat

Kategori Politik

Kategori Hukrim

Kategori Ekonomi Bisnis

Kategori Olahraga

Kategori Humaniora

Kategori Parlementaria Papua Barat

Kategori Metropolis

Kategori Manokwari

Kategori Manokwari Selatan

Kategori Sorong

Kategori Teluk Wondama

Kategori Kaimana

Kategori Pegunungan Arfak

Kategori Raja Ampat

Kategori Bintuni